Edukasi Fotografi dari SkolMus

Pameran foto bekerja dengan komunitas Lakoat.Kujawas.

SkolMus merupakan kepanjangan dari sekolah multimedia untuk semua. Dibentuk karena keterbatasan warga Kota Kupang dalam akses multimedia (fotografi, videografi, desain grafis dan menulis) di tahun 2011. Mengusung visi “Solidaritas Berbagi” dan misi “Terus Berbagi Cahaya”. 

Sekarang berfokus pada gerakan edukasi fotografi, videografi, dan revitalisasi budaya melalui pengarsipan visual serta kolaborasi lintas disiplin ilmu. Dalam pembicaraan menyangkut akses terhadap edukasi multimedia di Indonesia. Sebenarnya dari dulu hingga sekarang edukasi multimedia hanya dibicarakan di pulau Jawa, bahkan hanya 3 kota saja yaitu Jakarta, Bandung dan Yogyakarta. 

Kolektif dalam Ekosistem

Solidaritas berbagi yang dijalankan SkolMus sejak berdiri sampai sekarang, tidak mudah untuk tetap bertahan dan eksis. Tahun 2017, SkolMus hampir ditutup sementara karena regenerasi yang tidak berjalan seimbang dan hilangnya generasi pertama di awal berdirinya SkolMus. Persoalan dalam hal keberlanjutan manajemen komunitas seni dan pekerja kreatif memang jadi pekerjaan rumah tangga yang sampai hari ini terus dibicarakan dan dilakukan.

Ekosistem yang diciptakan dalam tubuh SkolMus adalah setiap orang yang tergabung di dalamnya secara kolektif, mempunyai skill dan ketertarikan isu yang berbeda, sehingga memperkaya pengetahuan dan disiplin ilmu yang saling beririsan dengan multimedia. 

Di Kupang, pekerja kreatif dan seni bisa dihitung dengan jari dan bisa terdekteksi radar. Sehingga dalam eksibisi dan menggagas kegiatan, SkolMus berkolaborasi dengan lintas komunitas seperti Komunitas Film kupang, Komunitas Leko yang fokus di literasi menulis, Timore Art Grafiti yang fokus di seni visual. Semuanya saling mempengaruhi satu sama lain untuk mendukung & menciptakan platform baru dalam berkarya.

Saat tumbuh dan berkembang, kontribusi SkolMus terhadap publik adalah melalui pendidikan multimedia, karena bagi kami pendidikan merupakan salah satu upaya untuk menjadi manusia yang utuh.

Pendidikan tidaklah mudah tapi mungkin untuk dilakukan

Ruang dan kesempatan belajar multimedia dihadirkan di tengah warga yang kesulitan mengakses ruang belajar multimedia. Sederhana tapi tak mudah, ungkapan yang sering kita dengar untuk memotivasi diri. 

Di tengah warga yang kesulitan mengakses pendidikan multimedia tidaklah sulit untuk menciptakan ruang belajar. Ruang yang selalu dinantikan untuk memberi air bagi yang berdahaga. Awalnya antusiasme warga untuk menjadi bagian dalam ruang belajar seakan tak terbendung. Karena tersedianya kesempatan belajar dari berbagai bidang; seperti desain grafis, videografi dan fotografi. 

Ruang yang dibekali/digerakan bersama mentor-mentor berpengalaman di bidangnya dan pernah mengakses pendidikan di daerah maju. Dengan sukarela berbagi ilmu berdasarkan pengalamannya. Apakah ketersediaan ruang mampu menjawab kebutuhan mereka (partisipan kelas) yang haus? Ternyata tidak semudah itu kekosongan diisi. Karena terkadang mereka tak tahu apa yang dibutuhkan dan hanya terkaan belaka yang coba diutarakan. 

Semangat yang awalnya tak terbendung terkikis sudah. Konsistensi tak mampu mereka pertahankan. Saat ketertarikan partisipan ditempah dan diuji dari belajar yang teratur, banyak kegagalan dilalui dalam proses berjalan. Komitmen awal pergi meninggalkan tubuh dan jiwa mereka. Menghindar, tak peduli bahkan hilang tanpa berita sering dihadapi saat kelas berlangsung. 

Kelas regular menjadi nafas utama SkolMus. Dengan belajar dari kegagalan sebelumnya dan tetap berkomitmen untuk tetap menjaga ketersediaan ruang belajar. Saat ini kelas regular hanya berfokus pada bidang fotografi saja. Kelas regular pun tidak hanya mendidik partisipan menjadi fotografer. Tapi juga mendidik partisipan untuk merespon fenomena sosial dan menyentuh ruang-ruang privat partisipan kelas. Dengan tidak membatasi latar belakang partisipan, akhirnya sangat beragam partisipan yang terlibat dengan profesi seperti dokter, dosen, ASN, ibu rumah tangga dan mahasiswa. Mereka tidak menjadikan fotografi untuk tujuan komersil saja melainkan sebagai sarana mengekspresikan diri.

Evaluasi dan testimoni partisipan menjadi bahan untuk mengembangkan kelas ke arah yang lebih baik. Namun tantangan yang sama seakan tak pernah meninggalkan proses belajar ini. Penerapan metode demi metode untuk menemukan formula yang tepat belum juga ditemukan. Mereka (partisipan kelas) bukan robot, manusia dengan karakter berbeda. Dibutuhkan pendekatan berbeda untuk menjawab kebutuhan secara personal. Waktu yang dibutuhkan untuk belajarpun berbeda, ada yang belajar dengan cepat namun ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai ke tahap akhir. 

Apa yang salah? Apa yang harus diperbaiki? Metode seperti apa yang sesuai? Bagaimana menjaga komitmen mereka? Menjadi pekerjaan rumah baru bagi SkolMus.

Kegagalan tak selamanya buruk. Dari kegagalanlah tercipta ruang-ruang belajar baru yang bisa diadakan. Maka terciptalah kelas malam atau bisa disebut kelas singkat dengan materi khusus yang tidak tersedia dalam kelas regular. Adapun ketersediaan ruang belajar bagi warga yang ingin mengakses pendidikan fotografi tanpa melalui kelas regular seperti workshop. Kami percaya bukan seberapa besar sayap yang dimiliki tapi sekokoh apa sayap itu mampu mengangkat tubuh. Untuk menjaga eksistensi ruang berbagi & belajar, maka dibentuk SkolMus Enterprise sebagai langkah independensi komunitas.

Siasat Keberlanjutan 

Tahun 2014 menjadi titik awal terbentuknya SkolMus Enterprise dan wadah usaha yang bukan hanya mendukung kegiatan sosial SkolMus, namun juga mendukung orang-orang yang ada di dalamnya. Wadah usaha ini menjadi tempat bagi fotografer profesional yang selama ini mendukung SkolMus. Dengan kesadaran bahwa untuk menginisiasi suatu ide dan melaksanakannya secara mandiri maka membutuhkan pembiayaan yang mandiri pula. Hal ini bukan karena tidak ingin ada kolaborasi atau campur tangan dari pihak manapun, namun karena SkolMus merasa penting untuk menjaga sebuah kegiatan tetap berjalan pada visi SkolMus tanpa ada unsur kepentingan pihak lainnya.

SkolMus enterprise sendiri telah bermitra dengan berbagai pihak, mulai dari LSM, lembaga pemerintah bahkan secara individual. Beberapa hasil telah dipublikasikan dalam bentuk dokumentasi video, foto, modul dan tulisan. Kami menyadari setiap tahun permintaan konsumen semakin beragam, tidak hanya melulu pendokumentasian foto dan video, tapi juga design grafis, website, analisis data, event organizer hingga penulisan buku. Dari sini kami menyadari peningkatan kapasitas personal sangat penting karena akan mempengaruhi hasil kerja unit usaha dan keberlangsungan kemitraan.

Sejak berdiri, unit usaha ini telah mendukung penuh seluruh kegiatan SkolMus, mulai dari kebutuhan komunitas dan kegiatan-kegiatan yang telah dilaksanakan. Dukungan finansial juga membuka kesempatan bagi SkolMus untuk berkolaborasi dengan komunitas-komunitas yang lebih banyak dan lebih jauh. Kesempatan bekerja bersama mitra yang beragam juga menjadi peluang bagi SkolMus untuk belajar hal-hal yang berbeda dan semakin memperkaya pemikiran dan memperluas ide-ide. Kamipun menyadari, walaupun alasan berdirinya Unit usaha ini sebagai penopang finasial bagi semua aktifitas SkolMus, namun juga secara langsung telah memberi kekayaan pengalaman, pengetahuan dan jaringan sebagai pribadi-pribadi ataupun sebagai komunitas.

***

Komite SkolMus.

Profil penulis:

Frengki Lollo

Saya tertarik fotografi sejak tahun 2013 dan mulai serius mengalaminya  dengan mengikuti workshop ” Aku dan Kotaku” tahun 2015 yang diselenggarakan oleh PannaFoto Institute di Kota Kupang. Pada tahun 2017 saya mengikuti workshop Doc.Now! di Bali. Setelah mengikuti workshop tersebut tahun 2018 saya bergabung dan bergiat bersama SkolMus hingga sekarang.

Ester Elisabeth Umbu Tara

Nama Lengkap Ester Elisabeth Umbu Tara, biasa dipanggil Ete. Bergabung bersama SkolMus di tahun 2018 melalui Kelas Reguler Foto Dokumenter Angkatan 7. Tahun 2019 bersama anggota Kelas Angkatan 7 menerbitkan sebuah buku foto berjudul ‘Afterthought’ dan melakukan pameran foto bersama. Tahun 2020 bekerja sama dengan SkolMus menulis sebuah buku untuk mengkampanyekan tentang pangan lokal berjudul “Food, Land and People.”

Armin Septiexan

Bersama dengan SkolMus sejak 2011 dalam angkatan pertama. Teman seangkatannya yang masih eksis di SkolMus yaitu Adhi Lintang Sodirin. Tahun 2019 bersama SkolMus merintis Pameran Arsip Publik “Merekam Kota” sebagai bentuk partisipatif warga dan meneliti dinamika sosial, politik dan kebudayaan kota.

Tulisan ini adalah opini pribadi penulis dan tidak mewakili Arkademy sebagai kolektif.

SkolMus
Latest posts by SkolMus (see all)

No Comments

Leave a Reply