Foto Keluarga, Pelantang Esensi Zaman

 

Sepanjang pengalaman saya menulis buku biografi, foto-foto sejarah yang berkaitan dengan kehidupan orang yang saya tulis bukan sekadar pelengkap apalagi pemanis tulisan. Selain membantu pembaca, foto-foto tersebut membantu saya sendiri sebagai penulisnya, untuk mendapatkan konteks utuh tentang orang tersebut –termasuk tentang apa yang terjadi pada suatu masa.

Biografi yang saya tulis sejauh ini kebanyakan menampilkan sosok senior, dengan latar sejarah dan budaya yang kadang tidak saya pahami. Detail elemen yang muncul dalam foto-foto lawas mereka menjadi penanda yang sangat membantu saya mengimajinasikan era tersebut –gaya berbusana, model rambut, wujud rumah, mimik wajah, kondisi gedung serta jalan raya, dan seterusnya.

Didukung oleh riset, foto-foto semacam ini seringkali menguak hal-hal yang sebelumnya tak muncul dalam perbincangan dengan para narasumber: kepribadian, status sosial-ekonomi, nilai hidup, interaksi dengan mereka yang berbeda identitas, bahkan lanskap politik yang terjadi pada saat itu.

Beberapa foto yang memancing rasa penasaran, segera saya tanyakan pada narasumber –dan terkadang jawabannya menguatkan atau justru melemahkan paparan mereka sebelumnya. Sebagian foto lainnya memancing diskusi-diskusi lanjutan yang menjadi fondasi latar kisah.

Tapi semua pengalaman ini tak sampai membuat perasaan saya berkecamuk sampai suatu hari (awal Februari 2021), papa saya menunjukkan sebuah album foto lawas miliknya. Baru kali itu saya melihat album foto tersebut meski sebelumnya sudah cukup sering menengok album keluarga.

Album foto ukuran 4R tersebut sudah mulai lusuh dimakan usia, dengan foto close-up wajah wanita di sampul depannya –nampaknya gratisan dari toko cetak foto. Foto-foto dalam album menunjukkan ketika papa dan adik perempuannya (bibi saya) memakamkan ayah mereka (kakek saya) di sebuah pemakaman umum yang berlokasi di dataran tinggi Kota Bandung pada akhir 1980.

Kami adalah keluarga Tionghoa yang terbilang cukup totok karena kakek saya (pihak papa) lahir di Provinsi Fujian, Tiongkok. Panasnya situasi politik dan kesulitan ekonomi di negeri panda kala itu memaksanya bermigrasi ke Indonesia dengan kapal laut. Ia kemudian menikahi peranakan Tionghoa kelahiran Jawa Tengah yang akhirnya melahirkan papa dan bibi saya di Kota Bandung.

Rangkaian foto mulai dari prosesi jenazah kakek disemayamkan di Rumah Duka, disembahyangkan, hingga diantar ke liang lahat. Peti mati kakek kelihatannya terbuat dari kayu berkualitas baik dengan motif khas Tiongkok berwarna dominan merah. Harganya saat ini tentu sudah luar biasa mahal.

Papa dan bibi mengenakan “jubah putih” tanda kedukaan Tionghoa. Yang membuat saya terbelalak bukanlah betapa tradisionalnya upacara penguburan yang dijalankan papa yang saat itu masih 31 tahun tetapi rangkaian foto berikutnya ketika kakek dikebumikan.

Sekelompok pelayat yang jelas bukan Tionghoa tampak mengelilingi makam sambil menemani papa. Beberapa perempuan berbusana kebaya dan sarung. Pada foto lainnya, tampak seorang pemuda bercambang menopang papa yang sedang memegang hio sembahyang di samping liang lahat. Ia seperti sahabat yang benar-benar tulus menguatkan papa yang terlihat jelas sangat terpukul.  

“Namanya Thomas, orang Maluku. Dia teman kerja di pabrik,” jelas papa.

Terlahir dalam keluarga sangat miskin, papa menghabiskan hampir sepanjang hidupnya sebagai buruh. Sebelum akhirnya berlabuh sebagai buruh pabrik tekstil selama lebih dari 30 tahun, papa sempat menjadi pembantu rumah tangga dan buruh cuci. Sampai suatu saat ia mendapat kabar tentang adanya pekerjaan dari pemilik pabrik yang ternyata sekampung halaman dengan kakek.

Di pabrik tekstil, papa tinggal di bedeng yang berlokasi persis di samping bangunan utama pabrik. Buruh pabrik tak cuma beretnis Tionghoa tapi juga aneka suku dan agama, termasuk Thomas yang berasal dari Maluku. Jam kerja yang relatif panjang membuat antar buruh cepat akrab dan akhirnya terasa seperti sebuah keluarga besar. Hubungan dengan atasan juga masih cukup baik.

“Bos kasih libur setengah hari supaya semua karyawan bisa ikut melayat. Operasional stop semua. Sepulang kerja, mereka datang melayat ramai-ramai pakai mobil bak terbuka,” terang papa.

Apa? Operasional pabrik sengaja diliburkan setengah hari? Saya tidak pernah mendengar cerita semacam ini. Cerita tentang atasan yang sengaja meliburkan pabrik demi memberi kesempatan pada para buruh untuk menemani teman buruh lainnya yang baru saja kehilangan ayahnya.

Ini tentu peristiwa fenomenal jika terjadi pada zaman sekarang yang kebanyakan lebih mengusung slogan time is money. Lewat kalkulasi untung-rugi maha ketat, perkara memperhatikan keluarga buruh cuma buang-buang waktu dan uang. Jangankan melayat orang tua, buruh itu sendiri sekarat pun tak ada ampun –sebisa mungkin tetap bekerja bagaikan kuda sampai benar-benar meninggal.

Papa mengaku saat itu tak merasa aneh dengan kentalnya nuansa pluralisme yang tampak gamblang dalam foto-foto tersebut –tahun di mana Orba sedang jaya-jayanya dengan semangat anti-Tionghoa. Hubungan papa dengan teman-teman pabriknya tidak bersifat transaksional melainkan benar-benar antar sahabat. Sebagian besar di antara mereka sama-sama tinggal di bedeng pabrik.

Tanpa perlu meneriakkan slogan-slogan “toleransi” atau “pluralisme” yang kini banyak diteriakkan, hal tersebut sudah terjadi secara natural!

Tak mungkin fotografer memberi aba-aba supaya mereka berpose akrab. Mustahil pula Thomas dan kawan-kawan sedemikian intens menopang dan menghibur papa cuma “demi konten” bernuansa pluralisme. Semangat toleransi serupa ditunjukkan atasan pabrik yang tak keberatan meliburkan operasionalnya setengah hari meski itu berarti penurunan jumlah produksi yang lumayan.

Sayangnya, semua berubah ketika sang atasan mengestafetkan kepemimpinan pada anak-anaknya yang tak memiliki nilai-nilai serupa, nilai-nilai yang mengutamakan kemanusiaan di atas cuan. Tanpa ragu, bos generasi kedua memecat massal para buruh secara sepihak, termasuk papa saya yang sudah mengabdi dengan loyalitas luar biasa selama lebih dari 30 tahun, nyaris tanpa pesangon.[1]

Dalam hal ini, saya segera sadar bahwa definisi “diskriminasi” klasik menjadi kabur. Jika selama ini saya lebih sering mendengar Tionghoa didiskriminasi non-Tionghoa, kasus papa menunjukkan bahwa Tionghoa juga menjadi pelaku diskriminasi –dengan sesama Tionghoa sebagai korbannya. Kompleksitas lanskap sejarah Tionghoa-Indonesia mendadak berpusar hebat dalam benak saya.

Sebagai pelengkap kisah, papa menunjukkan rangkaian foto dari album kecil lainnya dari tahun 2007 yang memperlihatkan ia, bibi, dan putri semata wayangnya (sepupu saya) menggali makam kakek dan mengkremasi tulang-belulangnya. Pada hari yang sama, mereka menaburkan abunya ke laut.

Masalahnya, saya tak tahu-menahu karena papa tak pernah mendiskusikan masalah tersebut.

“Soalnya kalian –generasi muda –udah nggak ngerti apa-apa soal tradisi ziarah kubur Tionghoa. Daripada nanti ngrepotin, lebih baik dikremasi aja mumpung saya masih hidup,” tutur papa, getir.

Papa benar. Saya dan adik-adik sama sekali tak tahu-menahu tradisi ziarah kubur Tionghoa (totok). Demi alasan pragmatis, selain biaya perawatan makam yang makin lama makin melonjak, papa dan bibi saya lebih memilih merelakan sisa-sisa ayahnya dilarung laut daripada mewarisi anak-cucunya kepusingan mengurus makam tanpa secuil pun paham tradisi yang mesti dijalani.

Kakek meninggal tujuh tahun sebelum saya lahir. Memandangi foto-foto tersebut, seketika saya merasakan betapa kuatnya dinamika sosial-politik mempengaruhi kehidupan pribadi saya, termasuk mencerabut saya dan adik-adik dari akar leluhur kami.

Kini saya tak lagi memandang foto-foto keluarga sebagai relik mati supaya kelak anak-cucu bisa mengenang moyangnya. Tidak. Foto-foto tersebut telah melimpahkan makna baru bagi hidup saya. Memberi saya sekeping memori manis tentang suatu momen ketika kemanusiaan masih dijunjung tinggi melebihi nafsu memburu duit, juga pergumulan Tionghoa-Indonesia dalam iklim diskriminatif.

***

Catatan Kaki

[1] Cerita soal ini selengkapnya bisa dibaca di https://suaraperanakan.wordpress.com/2020/10/08/tionghoa-perlu-lawan-omnibus-cipta-kerja/

Tulisan ini adalah opini pribadi penulis dan tidak mewakili Arkademy sebagai kolektif.

 

Sylvie Tanaga
Latest posts by Sylvie Tanaga (see all)

No Comments

Leave a Reply