Tentang Tanah, Fotografi dan Empati

“Di hari pertama pengambilan foto, tidak ada satupun foto saya dipilih oleh para mentor karena menurut mereka foto-foto yang saya ambil tidak ada yang sesuai dengan isu yang ingin saya angkat. Saya menceritakan situasi saya disana ke para mentor, seperti bagaimana sulitnya untuk mendekatkan diri dengan warga disana karena mereka cukup tertutup dengan orang luar dan juga skeptis dengan orang yang membawa kamera. Saya ingat salah satu warga rusun bilang “saya sebel kalau ada orang yang datang kesini, bawa kamera terus suka tanya-tanya kita apa yang kita alami ya kita jawab apa adanya, eh pas beritanya muncul di TV ceritanya beda.”

Selama mengikuti workshop Kelana Arkademy yang bertemakan “Tentang Tanah dan Manusia” pada bulan Agustus 2019 lalu memberikan saya kesan sangat mendalam terhadap fotografi. Pada pertemuan awal, peserta workshop mendapatkan materi-materi dari para mentor Arkademy tentang bagaimana fotografi dan tulisan dapat menjadi medium yang sangat krusial untuk menyuarakan isu-isu disekitar kita secara kritis, bagaimana membaca dan membuat cerita foto, dan menyampaikan pesan melalui medium fotografi ke pembaca foto. Pada workshop Arkademy ini, saya mengambil isu sosial tentang bagaimana dampak kehidupan bagi masyarakat yang telah direlokasi oleh pemerintah ketempat yang telah disediakan. Saya mencoba mencari tahu apakah permasalahan masyarakat yang telah direlokasi telah selesai setelah dipindahkan secara paksa oleh pemerintah ketempat yang lebih layak. Saya memfokuskan cerita foto di Rusunawa Rawa Bebek di Pulo Gebang, Jakarta Timur dan warga disana merupakan mantan penduduk dari wilayah Penjaringan dan Bukit Duri.

Perjalanan saya dalam workshop kali ini tidak berjalan mulus. Di hari pertama pengambilan foto, tidak ada satupun foto saya dipilih oleh para mentor karena menurut mereka foto-foto yang saya ambil tidak ada yang sesuai dengan isu yang ingin saya angkat. Saya menceritakan situasi saya di sana ke para mentor, seperti bagaimana sulitnya untuk mendekatkan diri dengan warga disana karena mereka cukup tertutup dengan orang luar dan juga skeptis dengan orang yang membawa kamera. Saya ingat salah satu warga rusun bilang “saya sebel kalau ada orang yang datang kesini, bawa kamera terus suka tanya-tanya kita apa yang kita alami ya kita jawab apa adanya, eh pas beritanya muncul di TV ceritanya beda.” Dari situ, para mentor menyarankan saya untuk membuka diri dan jujur terhadap mereka tentang tujuan saya datang ke sana, dan para mentor juga sangat menyarankan saya untuk menginap disana agar saya bisa merasakan bagaimana menjadi bagian dari mereka. Itu pastinya menjadi tantangan buat saya, karena dalam kurun waktu yang singkat, saya harus bisa meyakinkan warga disana agar saya bisa menginap. Akhirnya saya berhasil untuk menginap di rusun Ibu Sri dan selama tinggal di rusun banyak hal saya alami, dari saya yang tadinya outsider hingga dianggap anak mereka, dan akhirnya saya bisa mendengarkan berbagai cerita warga disana. Darisini fotografi memberikan kesan yang mendalam bagi saya, yaitu betapa sulitnya menjadi seorang fotografer ketika mengerjakan cerita foto fotografer harus mampu dan mau menjadi bagian dari subjeknya dan juga membawa emosi-emosi baru yang kompleks itu ke ranah kehidupan pribadi kita.

Setelah saya berhasil menjadi bagian dari warga rusun, saya mulai mengerjakan projek foto saya dan memfokuskan lebih dalam lagi terhadap bagaimana kehidupan warga rusun yang dimana mereka secara fisik hidupnya memang lebih layak, namun disisi lain kehidupan ekonomi mereka hanya berputar disekitar rusun karena lokasi rusun Rawa Bebek yang cukup jauh dari peradaban dan karena keterbatasan itu warga disana tidak lagi menjadi kreatif dalam mencari nafkah. Selain itu, relasi sosial dan kultural warga rusun juga tercerabut. Ditempat tinggal mereka yang dulu, warga tidak sungkan untuk saling membantu, namun setelah pindah ke rusun antar warga enggan untuk membantu dan juga mereka tidak lagi mempunyai kekuatan lebih untuk memikirkan ataupun membantu orang lain selain untuk bertahan hidup. Selain itu, dengan kondisi lingkungan hidup yang bukan lagi menginjak langsung ke tanah melainkan terperangkap di gedung yang menjulang keatas juga menjadi salah satu factor rusaknya relasi sosial antar warga. Keluarga Ibu Sri, memiliki pengalaman pilu ketika mereka pertama kalinya pindah ke rusun yang bertingkat tinggi. Ibu Sri kehilangan salah satu cucu kembarnya dikarenakan jatuh dari lantai 4 dengan jendela yang minim keamanan di tempat mereka tinggal. Saya sangat merasa bersalah ketika mendengarkan cerita ini, situasi dan keadaan yang seharusnya bisa dihindari kalau saja pemerintah tidak terburu-buru memindahkan warga ke rusun tersebut. Pada akhirnya, warga rusun Rawa Bebek sudah tidak mampu lagi marah ataupun memberikan warna terhadap keadaan tersebut, mereka hanya bisa menerima dan menyimpan kekecewaan mereka dengan baik agar terus bisa menjalani kehidupan.

Life Goes On

Pengalaman workshop Arkademy ini meninggalkan bekas di hati nurani saya, karena proses dan perjalanan selama workshop memiliki cerita yang mungkin tidak semua orang dapat rasakan. Melihat, mengalami dan terjun langsung ke lapangan dan menyuarakan isu tentang rusun ini yang mungkin tidak pernah kita dengar sebelumnya bahwa isu ini nyata dan ada disekitar kita, atau bahkan secara tidak sadar kita mengalaminya. Selama workshop berlangsung, pertanyaan-pertanyaan di kepala saya pun akhirnya muncul: sebagai seorang fotografer apakah empati saja cukup untuk membuat cerita foto ini? Apakah ini cara yang tepat untuk merepresentasikan kisah mereka? Setelah ini selesai, apa yang harus/bisa saya lakukan ke mereka? Lalu saya teringat teori “representative thinking” dan “emotional empathy” dari Hannah Arendt yang dimana beliau mengartikan bahwa sejatinya kita tidak akan pernah memahami kondisi/situasi seseorang sepenuhnya, tapi kita bisa menjadi aktor yang aktif dalam menggunakan imajinasi kita, keluar dan melepaskan keistimewaan yang kita miliki, dan menjadi ‘mereka’ selama kita diterima oleh mereka.[1] Pikiran dari Hannah Arendt ini akhirnya menjadi pondasi saya dalam berkarya untuk workshop ini, maka dari itu saya memilih untuk menggunakan foto hitam-putih untuk menceritakan kisah orang-orang di rusun. 

Tidak mudah bagi saya untuk menanggalakan keistimewaan yang saya miliki, masuk dan tinggal ke dalam kehidupan pribadi sebuah keluarga, lingkungan yang baru, dan tempat tinggal yang berbeda. Dan juga kegelisahan yang sama menimpa saya ketika saya pulang kerumah saya dan menikmati keistimewaan yang saya miliki, tapi disatu sisi saya merasa bersalah karena keluarga yang menerima saya dirusun tidak memiliki kesempatan yang sama untuk merasakan ini. Berat memang, tetapi saya mencoba untuk merima itu semua, karena apa yang saya cari bukan bagaimana sengsara atau susahnya hidup warga disana, melainkan kejujuran dan kebenaran apa yang terjadi dari mereka yang hidupnya dicabut secara paksa oleh negara. Dan ketika saya bisa menjadi sama dan diterima oleh mereka, saat itulah saya memiliki kesempatan untuk mendapatkan jawaban atas isu ini dan melihat kebenaran yang saya cari. Dari workshop ini akhirnya saya belajar, baik dalam kehidupan sehari-hari ataupun dalam mengerjakan cerita foto, untuk selalu membiasakan bertanya pada diri sendiri dan menggunakan imajinasi saya sebebas mungkin untuk mencapai arti dan jawaban yang lebih dalam.

* * *

Referensi

[1] Namwali Serpell, “The Banality of Emphaty,” The New York Review of Books, March 2, 2019, https://www.nybooks.com/daily/2019/03/02/the-banality-of-empathy/.

Tulisan ini adalah opini pribadi penulis dan tidak mewakili Arkademy sebagai kolektif.

Lidia Kristi
Latest posts by Lidia Kristi (see all)

No Comments

Leave a Reply