Foto Keluarga ala Orba; Teknologi Khitan, Militer Masuk Desa, dan Ibuisme Negara

Rumah, secara fisik adalah bentuk pemetaan, sebuah upaya kontrol ruang. Namun, di dalamnya ia menyimpan keintiman keluarga, ruang yang menyimpan potensi untuk resistensi. Melalui keintiman tutur, cerita, dan foto, narasi familial tersebut diwariskan antar generasi, atau justru hilang ketika tidak lagi memenuhi selera zaman.

Karen Strassler menyebutkan bahwa sejak era Orde Baru, fotografi menjadi lebih bisa diakses oleh masyarakat Indonesia. Meskipun awalnya terbatas dalam studio, maraknya investasi dan impor produk asing pada 1970an membawa kamera serta fotografi lebih dekat dengan masyarakat Indonesia1. Ketika kondisi ekonomi dan pembangunan infrastruktur mulai berkembang, konsumsi fotografi pun meningkat. Sejak saat itu, kecenderungan mendokumentasikan kegiatan keluarga mulai menjadi norma baru.

Foto keluarga adalah rekaman kolektif kecil beberapa individu yang diproduksi secara voluntary dan partisipatoris serta dikonsumsi dalam ranah domestik. Meskipun demikian, ruang domestik adalah percikan dari kondisi dunia luar. Foto-foto ini mungkin sekali menyimpan serpihan rekaman zaman yang bisa diretas untuk membaca serta melengkapi narasi sejarah yang lebih besar.

Misalnya, seri foto prosesi khitan pada tahun 1980an yang menggambarkan anak yang dipegangi tangan dan kakinya. Waktu itu adalah masa awal penggunaan anestesia pada prosesi khitan. Khitan dilakukan oleh seorang Mantri dengan peralatan sederhana, tidak secanggih sekarang. Kini, dengan laser dan bius tanpa suntik, khitan menjadi begitu mudah, cepat, dan hampir tanpa rasa sakit. Selain menjadi gambaran visual yang kongkrit tentang prosesi khitan di era 1980an, foto ini adalah artefak visual tentang perkembangan teknologi medis di Indonesia.

Prosesi Khitan, 1980an
Prosesi Khitan, 1980an.

Dokumentasi kegiatan kerja dalam foto keluarga menegosiasikan batasan ruang (familial). Perekaman dunia kerja kerap kali menyisipkan komunitas lain dalam album foto keluarga. Ranah domestik tersebut menjalar lebih luas melalui individu yang memiliki multi peran; sebagai anggota keluarga sekaligus anggota komunitas lain. Relasi multi-dimensi tersebut menempatkan foto keluarga sebagai rekaman jaringan antar komunitas. Ia melampaui sekedar ruang domestik; menjadi keluarga kerja, keluarga kampung, komunitas kota, hingga komunitas sebagai sebuah nasion.

Arsip foto keluarga sebagai rekaman antar komunitas dapat dilihat dari program ABRI Masuk Desa (AMD) yang terdokumentasikan dalam album keluarga. Dokumentasi tersebut menunjukkan keterlibatan aktif militer dalam pembangunan desa, infrastruktur, serta program pembekalan keahlian masyarakat dan transmigrasi. Rezim pemerintahan Orde Baru memang mesra sekali dengan militer. Adrian Vickers menulis hal ini sebagai upaya kontrol ruang yang dilakukan oleh pemerintah Orde Baru, yaitu dengan menempatkan aparat sebagai alat pengawasan ruang sipil. Tidak hanya di desa, normalisasi kampus pada tahun 1970an juga dilakukan untuk mengontrol pergerakan mahasiswa.

Peran militer dalam kemerdekaan, revolusi, serta ketahanan nasional menempatkannya sebagai sosok pahlawan. Pada masa Orde Baru, aparat militer—dengan kelas tertentu—memiliki tempat istimewa dalam pemerintahan serta kelas sosial. Mereka mendapat kewenangan mengelola perusahaan negara, perkebunan, perhotelan, pabrik gula, dan jasa transportasi. Selain itu, simbol-simbol patriotisme dan nasionalisme erat dikaitkan dengan figur prajurit berseragam. Pada peringatan HUT kemerdekaan Indonesia, anak-anak kerap kali didandani sebagai jenderal kecil. Kebanyakan masyarakat memiliki asumsi bahwa meraih keamanan sosial dan finansial adalah dengan bergabung menjadi anggota keluarga militer. 

Abri masuk Desa, Malang 1970an
ABRI masuk Desa, Malang 1970an.

Selain foto kegiatan kerja yang cenderung merekam peran dan fungsi sang ayah sebagai kepala keluarga, perempuan terekam dalam fungsinya sebagai pendukung rumah tangga. Dalam beberapa dokumentasi foto keluarga, perempuan ditampilkan dalam berbagai aktivitas; mulai dari acara pertemuan, olahraga, kehidupan bertetangga, serta beberapa kegiatan rumah. Dalam beberapa acara, perempuan kerap kali tampil dalam gaya busana yang diadaptasi dari potret Kartini, sang tokoh emansipasi. 

Citra perempuan ideal pada era ini lebih menempatkan emansipasi hanya sebagai mitos. Emansipasi dilucuti dari aktivisme dan intelektualitasnya, kemudian direduksi menjadi sekedar fashion; kebaya dan sanggul. Indoktrinasi perempuan tersebut didukung dengan jargon seperti 3M (macak, masak, manak) atau 3I (ibu, istri, ibu rumah tangga). Julia Suryakusuma menyebutnya sebagai ‘Ibuisme Negara’. Sebuah konsep yang menempatkan perempuan pada ranah domestik, sebagai istri dan ibu yang mengabdi pada suami. Sosok ideal yang mengatur perempuan ini dipersonifikasikan dari Garis Besar Haluan Negara (GBHN) tahun 1978 dalam konsep Dharma Wanita. 

Potret perempuan (1970an) dan arsip majalah Semangat tahun 1975
Potret perempuan (1970an) dan arsip majalah Semangat tahun 1975.

Dokumentasi keluarga yang cukup masif terdapat pada keluarga dengan profesi sebagai anggota militer, insinyur, dan jaksa. Mengingat bahwa misi utama Orde Baru adalah pembangunan infrastruktur, maka semangat zaman ini menempatkan profesi tersebut sebagai perangkat utama, pengaman, serta otak dan tangan pembangunan. Dengan strata sosial dan ekonominya, mereka termasuk kelompok yang mampu mengakses fotografi. Dalam hal ini, bisa dikatakan bahwa fotografi cenderung merekam kelas tertentu.

Membicarakan fotografi sebagai medium yang merekam suatu zaman rasanya terlalu ambisius. Sebagai sebuah sample, ia hanya merepresentasikan lingkup kalangan tertentu. Terlalu prematur untuk menyimpulkan kondisi masyarakat melalui satu medium terbatas ini tanpa studi lintas disiplin. Proses ini tentunya memiliki banyak tantangan, karena fotografi dan sejarah itu sendiri memiliki komplikasi elemen diskursusnya masing-masing. 

Foto-foto yang telah dibahas di atas kebanyakan adalah foto temuan*. Saya menyebutnya sebagai foto yatim piatu, orphan images. Mereka didapat dari proses adopsi, yaitu penemuan kembali foto-foto yang dibuang atau terlantar di pasar loak. Teknologi mekanis dan bentuk fisik sederhana menjadikannya begitu resisten; bisa ditemukan karena lebih teraba dan praktis, meskipun ruang aksesnya terbatas. Tidak seperti arsip foto digital yang tidak berwujud dan lebih rentan terhadap modifikasi dan manipulasi; atau foto unggahan sosial media yang mudah diakses untuk berbagai macam kepentingan (misalnya; pengawasan dan pasar), arsip foto fisik ini lebih resisten terhadap tantangan dunia digital dan virtual.

Fotografi tak bisa lepas dari tendensi penggambaran citra ideal. Namun, karena foto keluarga ini diciptakan untuk konsumsi domestik, perekamannya setidaknya lebih lugas, innocent, dan apa adanya. Mengadopsi foto yatim piatu ini adalah upaya meretas akses terhadap dokumen privat—kolektif, serta mengintip jejak wacana dari cerita intim keluarga. Sebuah upaya untuk berlama-lama mengamati narasi kecil sebelum ia hanyut dalam arus zaman yang serba cepat dan terlampau deras. 

*Proses ini adalah salah satu proyek dari Unhistoried, pengarsipan foto dan narasi keluarga sebagai sumber alternatif sejarah.

Referensi

Strassler, K. (2011). Refracted Visions: Popular Photography and National Modernity in Java. Durham and London: Duke University Press.

Vickers, A. (2005). A History of Modern Indonesia Second Edition. New York: Cambridge University Press.

Hasba, I. B. dan Wildana, T. D. (2017). ‘Patriarkhisme Pancasila: Dialektika Perempuan dalam Perumusan Pancasila dan Pembangunan Bangsa Indonesia’. Pancasila dalam Pusaran Globalisasi, editor: Al Khanif. Yogyakarta: LKIS Pelangi Aksara.

Suryakusuma, J. (2011). Ibuisme Negara – State Ibuism: Kontruksi Sosial Keperempuanan Orde Baru. Depok: Komunitas Bambu.

***

Tulisan ini adalah opini pribadi penulis dan tidak mewakili Arkademy sebagai kolektif.

 

Arif Furqan

No Comments

Leave a Reply